Kesepakatan nuklir yang bersejarah antara Amerika Serikat dan Arab Saudi dikatakan bergantung pada pengakuan Riyadh terhadap negara Israel, menurut pernyataan Presiden AS, Donald Trump. Dalam sebuah unggahan di platform Truth Social, Trump menegaskan, “Kesepakatan Nuklir Sipil (tidak ada pengayaan material!)… yang hanya berkaitan dengan penggunaan non-militer… akan disetujui, tetapi sepenuhnya tergantung pada Arab Saudi bergabung dengan Abraham Accords yang sangat dihormati dan sukses.
Pernyataan Trump ini muncul setelah sejumlah kritikus menyuarakan kekhawatiran bahwa kesepakatan tersebut dapat meningkatkan risiko proliferasi nuklir di kawasan yang sudah tidak stabil. Isu nuklir telah menjadi pusat konflik antara AS dan Israel dengan Iran selama beberapa bulan terakhir.
Pada tahun 2020, Trump berhasil memfasilitasi Abraham Accords, yang menghasilkan normalisasi hubungan antara Israel dan dua negara Arab, yaitu Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain. Sejak itu, Sudan dan Maroko juga telah menormalisasi hubungan mereka dengan Israel.
Pentingnya kesepakatan ini tidak hanya terletak pada aspek politik, tetapi juga pada implikasi keamanan di kawasan Timur Tengah yang kerap dilanda ketegangan. Pengakuan Arab Saudi terhadap Israel bisa menjadi langkah signifikan dalam meredakan ketegangan antara negara-negara Muslim dan Israel, serta mengubah dinamika keamanan di kawasan tersebut.
Berita terkini mengenai kesepakatan ini akan terus diperbarui, dan informasi lebih lanjut akan diterbitkan segera. Silakan segarkan halaman ini untuk mendapatkan versi terlengkapnya.